IMPIAN YANG TAK TERDUGA
(Karya Indah Budi Syarifa)
Widi merupakan putri semata wayang Pak Tono dan Bu
Retno. Setahun yang lalu, Widi memutuskan untuk putus sekolah karena tidak ada
biaya untuk melanjutkan pendidikan. Gadis itu kini berusia 15 tahun. Ia
sebenarnya sudah menginjak kelas X SMA. Akan tetapi, sekarang ia sibuk untuk
membantu orang tuanya dalam mencari nafkah yaitu mencari barang-barang rosokan
serta memungut sampah untuk dijual kembali yang masih layak di tempat
pembuangan akhir. Widi hidup di tengah-tengah keluarga yang sederhana. Kondisi
ekonomi keluarganya pun pas-pasan.
Pada suatu hari ketika mereka bertiga sedang
bekerja memungut sampah, tiba-tiba saja Widi meminta izin kepada orang tuanya
untuk segera pulang terlebih dahulu sebelum adzan dhuhur dikumandangkan.
Sesampainya di rumah, Widi langsung menuju bilik kamar dan ia menangis
tersedu-sedu. Ternyata, sewaktu Widi sedang memungut sampah ia bertemu
teman-taman SMAnya yang dulu 1 SMP sedang berangkat sekolah. Kemudian saat ia
teringat keinginannya untuk bersekolah kembali gadis itu bahkan tak kuasa
menahan air matanya, itu sebabnya Widi memutuskan untuk pulang ke rumah.
Widi merupakan anak yang pandai dan rajin. Di
sekolah dulu, ia selalu mendapat peringkat tiga besar. Widi ingin sekali
bersekolah tetapi ia tidak tega terhadap orang tuanya yang tidak bisa
membiayainya. Gadis itu hanya bisa duduk terpaku di sudut kamar. Ia berfikir bagaimana caranya agar ia bisa sukses meskipun tidak bersekolah. Widi terus berfikir karena ia juga telah memutuskan untuk tidak
bersekolah tetapi harus bisa sukses.
Di sudut kamarnya, Widi teringat bahwa ia
pernah menyimpan nomor handphone sahabatnya, Alexa. Sekitar dua tahun yang
lalu, Alexa pindah rumah mengikuti orang tuanya. Alexa dan Widi adalah sahabat
karib sejak kecil. Dulu, mereka berdua sering membuat mainan yang berasal dari
barang bekas. Alexa merupakan anak dari seorang pengusaha pengolah barang bekas.
Ia selalu mengajarkan Widi untuk bisa mengolah barang-barang di sekitar kita
menjadi sesuatu yang bermanfaat. Widi berkeinginan untuk menghubungi sahabatnya
itu. Widi dengan sangat terburu-buru mencari secarik kertas berisi nomor
handphone Alexa. Sepintas, Widi teringat bahwa kertas yang terdapat nomor
handphone Aleka pernah ia simpan di bawah karpet alas untuk tidurnya. Widi
langsung mengambil kertas tersebut seraya mengelus dada seolah-olah ia tekut
akan kehilangan kertas itu.
Widi pun langsung mengambil handphone ibunya
yang masih berlayar kuning itu yang kebetulan disimpan di dalam lemari tua. Ia
menghubungi Alexa tanpa sepengetahuan orang tuanya. Widi telah merencanakan
sesuatu dengan Alexa untuk membuat suatu barang dari barang-barang yang sudah tidak
terpakai untuk menjadi barang yang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi.
Keesokan harinya, Widi melakukan aktivitas
seperti biasanya. Ia membantu orang tuanya untuk memungut sampah. Tetapi, gadis
itu pulang lebih awal dari biasanya dan orang tuanya pun tidak menolaknya.
“ Allahuakbar Allahuakbar... “ Adzan dhuhur
pun telah dikumandangkan. Widi segera mengambil air wudhu untuk salat dhuhur.
Setelah itu, ia menuju ke tempat pembuatan barang dari bahan bekas milik orang
tuanya Alexa dengan membawa barang-barang temuannya yang ada di pembuangan. Di
sana Widi dapat belajar banyak tentang cara-cara pengolahannya supaya menjadi
barang yang mempunyai nilai ekonomis tinggi.
Alexa selalu membantu Widi dalam kesusahan.
Alexa merupakan sahabat terbaik Widi. Pada malam hari setelah orang tua Widi
sudah tidur, Widi pun sibuk membuat berbagai macam aksessoris dan hiasan
lainnya yang telah diajarkan siang tadi menggunakan barang bekas sampai larut
malam hingga pada pagi harinya Widi sering bangun kesiangan. Ia pun selalu
mengumpulkannya dari waktu ke waktu dan akhirnya menjadi beragam jenis hiasan.
“ Kukurrruyuuukk... “ Fajar pun mulai
menampakkan dirinya, pertanda pagi telah datang. Widi memutuskan untuk tidak
memungut sampah sementara waktu. Pagi-pagi sekali ia sudah menyetorkan barang
buatannya ke toko ternama khusus barang-barang antik yang terbuat dari
barang-barang bekas. Gadis itu pun kini telah menekuni usahanya tersebut. Tanpa
disadari keuntungannya pun sudah semakin banyak. Widi pun mulai membicarakan
usahanya ini kepada orang tuanya. Pak Tono dan Bu Retno awalnya sempat terkejut
mendapat berita ini karena mereka tidak menyangka bahwa Widi pandai dan tekun
dalam usahanya. Mereka bersujud syukur kepada Allah SWT seraya menahan tangis
harunya.
Orang tua Widi pun kini setelah pulang
memungut sampah harus memilahnya terlebih dahulu sehingga barang-barang bekas
yang masih layak akan disulap menjadi barang ekonomis. Widi mengatakan kepada
orang tuanya bahwa Alexa lah yang setia membantunya. Keesokan harinya, Widi dan
orang tuanya pun berniat akan bersilaturahmi ke rumah Alexa. Mereka bertiga
pergi bersama-sama. Widi membawakan hadiah kepada Alexa dengan buatannya
sendiri. Setelah hadiah itu dibuka, ternyata hadiah itu adalah lampu neon
cantik yang berasal dari botol dan lampu bekas.
Hingga akhirnya keluarga Widi pun bisa hidup
lebih nyaman. Widi dan Alexa tetap bersahabat selamanya.