Jumat, 26 Februari 2016

CERPEN


IMPIAN YANG TAK TERDUGA
(Karya Indah Budi Syarifa)
          Widi merupakan putri semata wayang Pak Tono dan Bu Retno. Setahun yang lalu, Widi memutuskan untuk putus sekolah karena tidak ada biaya untuk melanjutkan pendidikan. Gadis itu kini berusia 15 tahun. Ia sebenarnya sudah menginjak kelas X SMA. Akan tetapi, sekarang ia sibuk untuk membantu orang tuanya dalam mencari nafkah yaitu mencari barang-barang rosokan serta memungut sampah untuk dijual kembali yang masih layak di tempat pembuangan akhir. Widi hidup di tengah-tengah keluarga yang sederhana. Kondisi ekonomi keluarganya pun pas-pasan.
 Pada suatu hari ketika mereka bertiga sedang bekerja memungut sampah, tiba-tiba saja Widi meminta izin kepada orang tuanya untuk segera pulang terlebih dahulu sebelum adzan dhuhur dikumandangkan. Sesampainya di rumah, Widi langsung menuju bilik kamar dan ia menangis tersedu-sedu. Ternyata, sewaktu Widi sedang memungut sampah ia bertemu teman-taman SMAnya yang dulu 1 SMP sedang berangkat sekolah. Kemudian saat ia teringat keinginannya untuk bersekolah kembali gadis itu bahkan tak kuasa menahan air matanya, itu sebabnya Widi memutuskan untuk pulang ke rumah. 
          Widi merupakan anak yang pandai dan rajin. Di sekolah dulu, ia selalu mendapat peringkat tiga besar. Widi ingin sekali bersekolah tetapi ia tidak tega terhadap orang tuanya yang tidak bisa membiayainya. Gadis itu hanya bisa duduk terpaku di sudut kamar. Ia berfikir bagaimana caranya agar ia bisa sukses meskipun tidak bersekolah. Widi terus berfikir karena ia juga telah memutuskan untuk tidak bersekolah tetapi harus bisa sukses.
 Di sudut kamarnya, Widi teringat bahwa ia pernah menyimpan nomor handphone sahabatnya, Alexa. Sekitar dua tahun yang lalu, Alexa pindah rumah mengikuti orang tuanya. Alexa dan Widi adalah sahabat karib sejak kecil. Dulu, mereka berdua sering membuat mainan yang berasal dari barang bekas. Alexa merupakan anak dari seorang pengusaha pengolah barang bekas. Ia selalu mengajarkan Widi untuk bisa mengolah barang-barang di sekitar kita menjadi sesuatu yang bermanfaat. Widi berkeinginan untuk menghubungi sahabatnya itu. Widi dengan sangat terburu-buru mencari secarik kertas berisi nomor handphone Alexa. Sepintas, Widi teringat bahwa kertas yang terdapat nomor handphone Aleka pernah ia simpan di bawah karpet alas untuk tidurnya. Widi langsung mengambil kertas tersebut seraya mengelus dada seolah-olah ia tekut akan kehilangan kertas itu.
 Widi pun langsung mengambil handphone ibunya yang masih berlayar kuning itu yang kebetulan disimpan di dalam lemari tua. Ia menghubungi Alexa tanpa sepengetahuan orang tuanya. Widi telah merencanakan sesuatu dengan Alexa untuk membuat suatu barang dari barang-barang yang sudah tidak terpakai untuk menjadi barang yang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi.
 Keesokan harinya, Widi melakukan aktivitas seperti biasanya. Ia membantu orang tuanya untuk memungut sampah. Tetapi, gadis itu pulang lebih awal dari biasanya dan orang tuanya pun tidak menolaknya.
 “ Allahuakbar Allahuakbar... “ Adzan dhuhur pun telah dikumandangkan. Widi segera mengambil air wudhu untuk salat dhuhur. Setelah itu, ia menuju ke tempat pembuatan barang dari bahan bekas milik orang tuanya Alexa dengan membawa barang-barang temuannya yang ada di pembuangan. Di sana Widi dapat belajar banyak tentang cara-cara pengolahannya supaya menjadi barang yang mempunyai nilai ekonomis tinggi.
 Alexa selalu membantu Widi dalam kesusahan. Alexa merupakan sahabat terbaik Widi. Pada malam hari setelah orang tua Widi sudah tidur, Widi pun sibuk membuat berbagai macam aksessoris dan hiasan lainnya yang telah diajarkan siang tadi menggunakan barang bekas sampai larut malam hingga pada pagi harinya Widi sering bangun kesiangan. Ia pun selalu mengumpulkannya dari waktu ke waktu dan akhirnya menjadi beragam jenis hiasan.
 “ Kukurrruyuuukk... “ Fajar pun mulai menampakkan dirinya, pertanda pagi telah datang. Widi memutuskan untuk tidak memungut sampah sementara waktu. Pagi-pagi sekali ia sudah menyetorkan barang buatannya ke toko ternama khusus barang-barang antik yang terbuat dari barang-barang bekas. Gadis itu pun kini telah menekuni usahanya tersebut. Tanpa disadari keuntungannya pun sudah semakin banyak. Widi pun mulai membicarakan usahanya ini kepada orang tuanya. Pak Tono dan Bu Retno awalnya sempat terkejut mendapat berita ini karena mereka tidak menyangka bahwa Widi pandai dan tekun dalam usahanya. Mereka bersujud syukur kepada Allah SWT seraya menahan tangis harunya.
 Orang tua Widi pun kini setelah pulang memungut sampah harus memilahnya terlebih dahulu sehingga barang-barang bekas yang masih layak akan disulap menjadi barang ekonomis. Widi mengatakan kepada orang tuanya bahwa Alexa lah yang setia membantunya. Keesokan harinya, Widi dan orang tuanya pun berniat akan bersilaturahmi ke rumah Alexa. Mereka bertiga pergi bersama-sama. Widi membawakan hadiah kepada Alexa dengan buatannya sendiri. Setelah hadiah itu dibuka, ternyata hadiah itu adalah lampu neon cantik yang berasal dari botol dan lampu bekas.
 Hingga akhirnya keluarga Widi pun bisa hidup lebih nyaman. Widi dan Alexa tetap bersahabat selamanya.


Senin, 23 November 2015

Teks Eksposisi

Sistem Kebut Semalam (SKS)
(Indah Budi Syarifa)

          Sistem Kebut Semalam (SKS) merupakan suatu sistem pembelajaran yang disukai dan dilakukan oleh sebagian pelajar, baik Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengh Pertama (SMP), maupun Sekolah Menengah Atas (SMA). Pelajar yang menerapkan sistem ini akan belajar mati-matian dalam hal penguasaan materi sebab mereka hanya memerlukan sedikit waktu untuk belajar. Mereka rela mengurangi jam tidur mereka bahkan tidak tidur sama sekali. Sistem Kebut Semalam (SKS) selain memiliki kekurangan juga memiliki kelebihan.
 Beberapa kelebihannya yaitu sistem ini berguna bagi sebagian pelajar yang tidak punya waktu, sibuk, ataupun malas belajar. Pelajar yang sibuk dengan banyaknya aktivitas yang mereka lakukan merupakan salah satu penyebab dilakukannya sistem ini. Mereka menganggap sistem belajar yang seperti inilah yang efektif. Sebagian pelajar biasanya tidak suka mencicil belajar pada jauh-jauh hari karena materi yang telah dipelajari akan lupa seiring berjalannya waktu. Sebagian pelajar juga berfikir bahwa kegiatan SKS ini dilakukan agar tidak menghabiskan waktu. Mereka beranggapan bahwa dengan menerapkan sistem ini pada pagi harinya pekerjaan yang mereka pelajari dapat terserap dengan mudah.

          Pelaksanaan SKS yang baik terbukti dapat meningkatkan kemampuan mengingat materi di saat ujian tiba. Jadi sejumlah pelajar banyak yang menyukai dan melaksanakan sistem ini.

Jumat, 20 November 2015

Laporan Hasil Observasi


X MIA 3
(Indah Budi Syarifa)

Siswa kelas X MIA 3 merupakan salah satu kelas yang berada di SMA Negeri 2 Magelang. Kelas dengan wali Bu Sri Lestari ini berada di antara kelas X MIA 2 dan X MIA 4. Penghuni siswa kelas X MIA 3 ini berjumlah 29 siswa yang seluruhnya beragama islam. Siswa putra sebanyak 7 siswa dan putri sebanyak 22 siswa.
Siswa kelas X MIA 3 berdasarkan tempat tinggalnya dapat dipilah menjadi dua, yakni siswa yang berasal dari dalam kota dan dari luar kota. Dari 29 penghuni kelas X MIA 3, sebanyak 6 siswa berasal dari dalam kota, yakni 2 siswa putra dan 4 siswa putri. Sisanya sebanyak 23 siswa, terdiri dari 5 siswa putra dan 18 siswa putri berasal dari luar kota Magelang. Mereka yang berasal dari luar kota pada umumnya lebih  aktif dan serius dalam mengikuti pembelajaran. Selain itu, mereka yang berasal dari luar kota pada umumnya lebih kuat fisiknya dibanding yang berasal dari dalam kota.
Siswa kelas X MIA 3 pada umumnya mempunyai hobi membaca, baik putri maupun putri. Terdapat 6 siswa yang mempunyai hobi selain membaca, diantaranya ada yang mempunyai hobi memancing, bernyanyi, menari, mendengarkan musik, bahkan melukis. Salah satu contoh diantaranya yaitu siswa putra yang bernama Purbo Listiyo Pambudi, siswa yang gemar melukis. Ia tidak hanya dapat melukis di buku gambar saja, melainkan ia senang melukis di dinding-dinding rumahnya. Ia bahkan tak segan-segannya membuat berbagai macam karya seni lukis untuk pameran.
Berdasarkan cita-cita yang dimiliki siswa kelas X MIA 3 dapat digolongkan sebagai berikut.
No
Nama cita-cita
Banyak siswa
1
Dokter
7
2
Bidan
1
3
Perawat
1
4
Ahli gizi
1
5
Psikolog
1
6
Guru
3
7
Pegawai pajak
1
8
Akuntan
1
9
Tentara
1
10
Polisi
1
11
Pengusaha
4
12
Lainnya
7

  Jadi, siswa X MIA 3 dominan berkeinginan menjadi seorang dokter.
       Siswa kelas X MIA 3 sangat mudah untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan barunya. Buktinya, meskipun belum lama mengenali seluruh siswa tetapi mereka sangat mudah untuk saling berinteraksi satu sama lain. Misalnya dalam hal belajar kelompok. Ketika terdapat tugas kelompok, siswa kelas X MIA 3 akan saling berbagi informasi satu sama lain, tidak memandang perbedaan yang mereka miliki.
   Siswa kelas X MIA 3 ada yang berkulit putih, sawo matang, bahkan kuning langsat. Siswa putri kelas X MIA 3 hanya ada 1 siswa yang tidak memakai jilbab. Hal tersebut tidak menjadi penghalang untuk saling bekerja sama meraih kesuksesan.

Jumat, 30 Oktober 2015

Teks Anekdot



Kelalaian Pemerintah
( Indah Budi Syarifa)

Pada suatu hari, terdapat sekelompok pemuda yang sedang asyik berkumpul di tempat yang sering mereka tongkrongi. Mereka merupakan pemuda yang sering bermalas malasan dan tidak mau bekerja, dan membanting tulang demi keluarganya.
Mereka sering meminum minuman keras hingga bekerja sama dengan pecandu narkoba. Setiap hari mereka selalu membuat keonaran di kampung, tetapi tidak ada seorang pun yang berani melaporkannya.
Pak Anton merupakan salah satu warga yang berani menegurnya. Ketika Pak Anton menemui salah satu gerombolan pemuda tersebut, Pak Anton pun bertanya, “Nak  mengapa kamu dan teman temanmu tidak mau bekerja? Mengapa kamu malah asyik meminum minuman keras bersama teman temanmu daripada membantu orang tuamu? Apakah itu menyenangkan?’’
 “Tidak. Itu tidak menyenangkan, sebab aku harus menahan ejekan dari para warga. Tetapi jika tidak kulakukan pemerintah juga tidak akan turun tangan.” Jawabnya dengan santai.
“Kamu jangan keras kepala seperti itu!! Kasihan orang tuamu yang telah mendidikmu!” Bentak Pak Anton.
“Truss.. Aku dan teman teman harus gimana? Aku kesal dengan pemerintah yang lalai.” Ujar salah satu pemuda itu.
Setelah mengetahui permasalahannya, Pak Anton bergegas melaporkan Pak Lurah agar bisa mengatasi masalah ini. Keesokan harinya pun Pak Lurah mendatangi pemuda tersebut dibantu warga desa. Pemuda tersebut pun membicarakan sesuatu kepada pak lurah,
“Pak sebenarnya saya tidak ingin meminum minuman keras, tapi hal ini aku dan teman teman lakukan yaitu agar pemerintah berkaca diri. DPR di sana sering menghambur hamburkan uang dan memakan uang rakyat. Daripada uang hanya untuk dihambur hamburkan, lebih baik kugunakan untuk meminum minuman keras.” Ujar pemuda tersebut.
Akhirnya pak lurah berjanji akan mengusulkan kepada pemerintah yang lebih tinggi khususnya DPR. Pada hari selanjutnya para pemuda tersebut tidak mengulangi perbuatannya lagi.